Thursday, November 28, 2013

Biodata Acep Zamzam Noor

ACEP ZAMZAM NOOR adalah penyair, pelukis kelahiran Cipasung, Tasikmalaya. Lulusan Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, lalu Universitá Italiana per Stranieri, Perugia, Italia. Beberapa buah karyanya: Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982) Aku Kini Doa (kumpulan sajak, 1986) Kasidah Sunyi (kumpulan sajak, 1989) The Poets Chant (antologi, 1995) Aseano (antologi, 1995) A Bonsai’s Morning (antologi, 1996) Di Luar Kata (kumpulan sajak, 1996) Dari Kota Hujan (kumpulan sajak, 1996) Di Atas Umbria (kumpulan sajak, 1999) Dongeng dari Negeri Sembako (kumpulan puisi, 2001) Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004)Menjadi Penyair Lagi (antologi, 2007).
Penyair yang dibesarkan di Pesantren Cipasung ini pernah menerima berbagai penghargaan, di antaranya Penghargaan Penulisan Karya Sastra Depdiknas (2000), South East Asian (SEA), Write Award dari Kerajaan Thailand (2005), Khatulistiwa Literary Award (2007), Anugerah sastra Rancage dari Yayasan Rancage (2012) 

Labels:

Angin dan Batu



1
Kenapa harus batu yang diam
Dan bukan angin? Ia padat dan dingin
Tapi bergolak bagai api
Di perutnya sungai mengalir dan keheningan
Sembahyang. Ia diam dan bisu
Sekaligus menderu

2
Kenapa bukan angin
Dan harus batu? Ia tersepuh waktu
Matang oleh rindu

puisi oleh :
Acep Zamzam Noor

Labels:

Bahasa Langit


Bernyanyilah dalam getar bunga-bunga
Atau duduk saja menghikmati malam
Mungkin angin akan datang menengokmu dengan kecemasan
Tapi yang ingin diucapkannya

Adalah nyanyian yang terpendam tahun-tahunmu
Bernyanyilah dalam selimut batu-batu
Atau mengembara dalam hujan kata-katanya
Sebab langit yang turun adalah sahabat bumi
Yang menyiram kebun-kebun asuhannya. Itulah bahasa
Tapi matamu telah buta membacanya


puisi oleh :
Acep Zamzam Noor

Labels:

Cipasung


Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur



puisi oleh :
Asep Zamzam Noor

Labels:

Le Nausee



LE NAUSEE

Buat Wing Kardjo


Jejak bulan telah hapus
Bumi tinggal rawa peradaban
Kata-kata menjadi belantara nilai
Tak terbaca. Bencana demi bencana
Bahkan pertikaian antar sesama
Telah membunuh bahasa. Sungai-sungai
Yang mengalirkan lumpur dan lahar
Sumbernya berasal dari kemarahan

Tahun-tahun lindap, abad-abad gelap
Mengekalkan kesumat. Langit merendah
Berkaca pada lembaran sejarah
Yang penuh darah. Harimau dan ular
Mengaum dan menjalar
Tak tertahan. Naik-turun gunung
Keluar-masuk hutan
Merambah dunia tanpa peta

1983

Labels: