Dipegunungan
Bibir-bibir kita bergemeretuk
Otot-otot kit melengking
Rambut-rambut kita menegang
Antara kabut-kabut beku dan kaku daun pepohonan
Kita
masih cekikikan dalam pekat antariksa malam
Lampu-lampu
kota yang menuliskan nama kita,
Terhapus
kabut-kabut tebal
Malam semakin beku
Bibir kita mulai keram
Sendi-sendi kita menjadi lumpuh
Namun,
Mata kita masih bisa saling tatap-menatap.
Seolah saling bicara,
Bahwa kita sama..
Butuh.
huddanzul
November 2013
November 2013
Labels: puisi

<< Home