Disetasiun Kereta Api Pekalongan
Abdul Salam HS
DI
STASIUN KERETA API PEKALONGAN masih pada dingin yang sama ketika kita termangu malam ini
dalam ruang tunggu. sepi terpelanting bersama denyut peluit
kereta beberapa menit lalu meninggalkan stasiun, juga
meninggalkan percakapan kita yang semakin membeku. langit
meletupkan isyarat gawat lewat aliran gerimis pada tiang-tiang
bengis. malam ini sukma kita semisal tawanan yang diburu
dari waktu ke waktu
kegelapan tegak berdiri menjelma lorong yang panjang
mengisahkan hikayat kepergian yang tak selesai kukenali
dan selalu terus begitu. dalam cuaca sepi aku mencatat
angin di bebatuan di bangku-bangku peron yang bergumam
tentang kecemasan dan kesedihan dengan koyak perasaan
dengan kantuk tak tertahankan. tapi apa yang kita tunggu
tak kunjung datang juga. sedangkan dingin dan kecemasan
semakin berkelindan mengukuhkan kesedihan
mengukuhkan kecemasan
Jawa Tengah, 2012
Labels: puisi

<< Home