Disungai Pangiang
Abdul Salam HS
DI SUNGAI PANGIANG
angin menanggalkan gugusan dingin pada daun-daun pada bukit
-bukit seperti almanak menanggalkan angka-angka pada dinding
tahun yang kusam. meletuplah unggun kabut dari rusuk batu-batu
mengurapi pundak dan mataku yang nanar terpanggang lebam
jarak. pohon-pohon besar di tanah landai dan curam akarnya
menusuk-nusuk musim dan kulit matahari. kenangan lebih padat
tercipta dan lebih kekal dari sobekan mata pisau di ceruk sukmaku
air sungi yang mengalir mencipta puluhan alamat. mengantarkan
perasaan beku pada danau menudung dan kelabu di matamu
yang selalu memunculkan tafisr baru selekas aku eja. tak ada yang
lebih akrab dari sungai pangiang. gubug-gubug di sepanjang
tepi sungai memahat doa pada bibir hari dan cuaca
meleburlah seluruh jiwaku bersama waktu dikedalaman hulu
sedangkan gugusan dingin dan impian terus menderas menulis
jejak-jekak namamu dalam keheningan batu, keheningan
semak bambu yang menyimpan sulur rindu
Jawa Tengah, 2012
angin menanggalkan gugusan dingin pada daun-daun pada bukit
-bukit seperti almanak menanggalkan angka-angka pada dinding
tahun yang kusam. meletuplah unggun kabut dari rusuk batu-batu
mengurapi pundak dan mataku yang nanar terpanggang lebam
jarak. pohon-pohon besar di tanah landai dan curam akarnya
menusuk-nusuk musim dan kulit matahari. kenangan lebih padat
tercipta dan lebih kekal dari sobekan mata pisau di ceruk sukmaku
air sungi yang mengalir mencipta puluhan alamat. mengantarkan
perasaan beku pada danau menudung dan kelabu di matamu
yang selalu memunculkan tafisr baru selekas aku eja. tak ada yang
lebih akrab dari sungai pangiang. gubug-gubug di sepanjang
tepi sungai memahat doa pada bibir hari dan cuaca
meleburlah seluruh jiwaku bersama waktu dikedalaman hulu
sedangkan gugusan dingin dan impian terus menderas menulis
jejak-jekak namamu dalam keheningan batu, keheningan
semak bambu yang menyimpan sulur rindu
Jawa Tengah, 2012
Labels: puisi

<< Home